««•»»
Surah At Takwiir 9
بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَت
««•»»
bi-ayyi dzanbin qutilath
««•»»
Karena dosa apakah dia dibunuh,
««•»»
for what sin she was killed.
««•»»
Sudah menjadi maklum, bahwa bayi-bayi itu tidak punya dosa. Dalam ayat ini terdapat celaan keras kepada orang yang menguburnya hidup-hidup.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
“Lantaran dosa apa makanya dia dibunuh.”
Mereka akan ditanyai gerangan apa sebabnya maka ayah mereka sampai hati menguburkan mereka kebalik bumi dalam keadaan hidup tentu saja mereka sebagai saksi belaka dari kesalahan perbuatan ayahnya.
Menurut penafsiran Asy-Syihab, makanya pertanyaan dihadapkan kepada yang teraniaya, yaitu anak perempuan yang dikuburkan hidup-hidup itu sendiri, di hadapan orang yang menganiaya dan menguburkannya itu ialah supaya lebih terasa berat dan besarnya dosa yang telah diperbuatnya. Akan terasa sendirilah kepadanya bahwa bukanlah anak yang ditanya itu yang akan dapat menjawab pertanyaan itu karena bukan dia yang bersalah, melainkan dirinya sebagai pembunuhlah yang mesti dihukum berat.
Menurut Asy-Syihab cara yang seperti ini namanya ialah istidraj, yaitu membawa bicara kepada suatu suasana yang si bersalah merasakan sendiri kesalahannya, dengan mengaturkan pertanyaan terlebih dahulu kepada yang tidak bersalah.
Menurut As-Sayuthi: “Ayat-ayat ini menggambarkan betapa nian berat dosanya menguburkan anak perempuan hidup-hidup itu.”
Ad-Darimi meriwayatkan di dalam Masnadnya bahwa pada suatu hari seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW menceriterakan betapa dahsyat perbuatannya di zaman Jahiliyah. Katanya: “Ya Rasul Allah! Di zaman jahiliyah kami ini penyembah berhala dan tega hati membunuh anak kami. Aku sendiri mempunyai seorang anak perempuan. Setelah dia mulai gadis kecil, dia gembira dan lucu, suka sekali bila kupanggil. Suatu hari dia kupanggil, dia pun datang. Aku bawa, dia pun menurut. Lalu aku bawa kepada sebuah sumur tua kepunyaan kaum kami yang tidak begitu jauh dari kediaman kami. Lalu aku bawa dia ke pinggir sumur itu akan melihat ke dalamnya. Setelah kepalanya terjulur ke dalam, terus aku angkat kedua kakinya dan aku lemparkan dia ke dalam. Ketika dia akan aku tinggalkan masih kedengaran dia memanggil-manggil: “Ayah, Ayah!”
Mendengar ceriteranya itu dengan tidak disadari titiklah air mata Rasulullah. Lalu berkatalah salah seorang yang turut duduk dalam majlis itu: “Sudahlah! Engkau telah membuat Rasululllah bersedih hati!” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan dia! Dia menceriterakan hal itu ialah karena tekanan batinnya yang mendalam jua.”
Lalu Rasulullah bersabda pula kepada orang itu: “Lanjutkanlah ceriteramu itu.” Maka orang itu pun melanjutkan ceriteranya kembali dan Rasulullah SAW pun kembali pula dengan tidak disadari menitikkan air mata lebih banyak dari yang tadi. Dan orang itu pun kelihatan sekali sedihnya tengah berceritera itu, ternyatalah pada wajahnya penyesalan yang tiada terperikan.
Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Allah telah menghabiskan dosa-dosa zaman jahiliyah itu dengan masukmu ke dalam Islam. Perbanyaklah amalmu yang baik, moga-moga dosa-dosamu diampuni.”
Orang lain pula yang datang kepada Rasulullah mengeluhkan dosa serupa itu di zaman jahiliyah disuruh Rasulullah ganti dengan memerdekakan budak. Karena orang itu kaya.
Ibnu Abbas menceriterakan bahwa di zaman jahiliyah itu ada orang yang segera menggali lobang di sekitar rumahnya kalau isterinya telah menyatakan sakit akan beranak. Disuruhnya isterinya itu melahirkan anak di muka lobang itu. Kalau ternyata perempuan, langsung lancarkan saja masuk lobang dan segera ditimbuni.
Tetapi ada juga di zaman jahiliyah itu orang yang tidak menyukai dan sangat benci kepada kebiasaan yang sangat buruk itu. Yang amat terkenal ialah seorang pemuka Bani Tamim bernama Sha’sha’ah bin Najiyah bin ‘Iqaal. Kalau dia tahu ada orang yang bermaksud berbuat begitu dengan anak perempuannya, diterimanya orang itu dan ditebusnya anak orang itu dengan hartabendanya sendiri. Sehingga tersebutlah di dalam sejarah bahwa sampai beratus gadis-gadis kecil yang beliau tebus, beliau bayar kepada ayahnya itu, dan anak itu diambilnya anak dan dipeliharanya.
Sehingga seorang penyair Arab ternama, Farazdaq bin Ghalib, cucu keturunan dari Sha’sha’ah ini menjadikan perbuatan neneknya itu suatu kemegahan bagi kaumnya dan dipujanya dengan syi’ir. Menurut riwayat Abu ‘Ubaidah, seketika kabilah-kabilah Arab berbondong mengirim utusan menghadap Rasulullah menyatakan ketundukkan dan kesetiaan, maka dalam perutusan Bani Tamim masuklah Sha’sha’ah yang sangat menantang kebiasaan menguburkan anak perempuan itu.
Rasulullah menghormatinya dengan baik dan beliau mengetahui kelebihan orang ini di zaman jahiliyah. Maka setelah duduk di hadapan beliau, berharaplah Sha’sha’ah agar Rasululullah SAW berkenan memberinya nasihat: “Aushini, ya Rasul Allah, bi abi anta wa ummi!” Berilah aku nasihat, ya Rasul Allah, demi ayah dan ibuku! Lalu Rasul Allah memberinya nasihat: “Bersikap baiklah kepada ibu engkau dan ayah engkau, kepada saudara perempuan engkau dan saudara laki-laki engkau, dan seterusnya kepada yang lain menurut urutan pendekatannya dengan engkau!”
“Sedikit lagi beri aku nasihat, ya Rasul Allah!” Katanya pula.
Maka bersabdalah beliau: “Jagalah yang di bawah jenggot engkau dan yang di antara kedua kaki engkau.” (Artinya jagalah kehormatan!).
Lalu Rasulullah bertanya pula kepadanya: “Cobalah ceriterakan kepadaku apa yang pernah engkau perbuat di zaman jahiliyah itu!”
Lalu Sha’sha’ah memulai berceritera: “Ya Rasul Allah! Aku lihat di waktu itu orang berbondong saja tidak ada tujuan, dan aku sendiri tidak tahu manakah yang benar. Tetapi hatiku merasa bahwa tidak seorang jua pun menempuh jalan yang betul. Anak perempuan dikuburkan hidup-hidup. Aku pun yakin dalam hati bahwa perbuatan ini tidak dibolehkan Allah Yang Maha Tinggi. Maka sekadar tenagaku, aku cobalah mencegah perbuatan itu, lalu aku tebus anak-anak itu jika kulihat orang tuanya telah hendak bertindak.”
Setelah Agama Islam datang, dan Nabi Muhammad SAW menunjukkan contoh teladan betapa kasih kepada anak-anak perempuan, yang beliau tumpahkan kepada Zainab, yang menebus suaminya Abul ‘Ash dari tawanan Perang Badar dengan kalung leher ibunya sendiri, Siti Khadijah dan betapa kemudiannya beliau mendukung cucunya, anak dari Zainab itu ketika di dalam Sakaratil-maut.
Dan betapa pula kasih beliau kepada anaknya Ruqayah dan Ummi Kultsum, yang seketika Ruqayah meninggal sebagi isteri dari Usman bin Affan, lalu beliau “ganti tikarkan” dengan adiknya Ummi Kultsum itu, sedang Ummi Kultsum pun mati pula tidak betapa lama kemudian, sampai beliau berkata kepada Usman: “Sayang Usman! Tidak ada lagi anak perempuanku yang akan aku serahkan jadi pengganti yang hilang buatmu!”. Dan betapa pula kasih beliau kepada puterinya Fatimah, yang sampai diraihnya anaknya itu ke dalam pangkuannya tatkala telah dekat beliau menutup mata, maka semuanya ini menjadikan anggapan masyarakat sahabat-sahabat beliau dan ummatnya seterusnya berbeda kepada anak perempuan, perbedaan siang dengan malam, dengan yang dialami di zaman jahiliyah itu.
Kata Sahibul hikayat, pada suatu hari masuklah sahabat Nabi kita ‘Amr bin Al-Ash ke dalam majlis Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Didapatinya beliau sedang duduk dengan anak perempuannya yang masih kecil. Lalu ‘Amr bertanya: “Siapa ini, ya Mu’awiyah?”
Mu’awiyah menjawab: “Inilah dia delima hati, kembang permainan mata, wangi-wangian pengobat hidung.”
Berkata pula ‘Amr: “Jauhkanlah dia!”
“Mengapa?”, tanya Mu’awiyah.
Menjawab ‘Amr: “Karena dia menyebabkan adanya musuh. Bahaya yang jauh menjadi dekat. Hidup yang tadinya tenang jadi bergolak. Kebencian yang telah terpendam, tersebab dia timbul kembali.
Maka menjawab Mu’awiyah: “Jangan engkau berkata begitu ya ‘Amr! Demi Allah ya ‘Amr, apabila badan menderita sakit-sakit, apabila janazah telah dikelilingi beramai-ramai, atau apabila zaman memburuk nasib, atau tentara dukacita datang menyerbu bertubi-tubi, tak ada obat hati pelarai demam yang melebihi sejuknya daripada barutan tangan halusnya anak perempuan. Kau boleh saksikan sendiri ‘Amr seorang khaal (saudara laki-laki ibu, atau mamak menurut bahasa Minangkabau) merasa tenteram dirawat oleh kemenakannya perempuan, dan seorang nenek diobat hari tuanya oleh cucu perempuannya.”
Termenung ‘Amr bin Al-Ash mendengarkan susunan kata Mu’awiyah itu. Akhirnya dia berkata: “Tadinya tak ada di muka bumi ini yang paling tidak aku senangi, melainkan merekalah. Tetapi setelah mendengar katamu itu maka mereka pulalah yang paling aku sayangi di muka bumi ini.”
Maka terkenanglah kita akan suatu ceritera lagi, bahwa seketika salah seorang anak perempuannya yang berempat itu, Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum dan Fatimah Az-Zahraa’ masih kecil digendong dipangku oleh Rasulullah SAW. Lalu ada orang bertanya, bagaimana perasaan beliau ketika itu. Lalu beliau jawab:
“Dia adalah kembang yang wangi; kita cium dia. Dan dikurniakan Allah kepada keluarganya.”
Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Ustadzul-Imam Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Juzu’ Ammanya seketika menafsirkan ayat ini: “Cobalah perhatikan bagaimana kejam dan kesatnya hati orang-orang ini. Sampai hati mereka membunuh anak-anak gadisnya yang tak berdosa, cuma karena takut akan miskin dan menderita malu; dan semuanya itu bertukar dengan kasih dan sayang, dan sikap yang lemah lembut, setelah orang Arab menerima Islam. Alangkah besarnya nikmat Islam atas perikemanusiaan seluruhnya dengan hapusnya adat yang sangat buruk dan keji ini.”
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Karena dosa apakah dia dibunuh) dibaca Qutilat karena mengisahkan suatu dialog, jawab bayi-bayi perempuan itu; kami dibunuh tanpa dosa.
««•»»
Successful indeed (qad: the lām [of laqad, ‘indeed’] has been omitted from it for the sake of brevity) will be the one who purifies it, purges it of sins,
Surah At Takwiir 9
بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَت
««•»»
bi-ayyi dzanbin qutilath
««•»»
Karena dosa apakah dia dibunuh,
««•»»
for what sin she was killed.
««•»»
Sudah menjadi maklum, bahwa bayi-bayi itu tidak punya dosa. Dalam ayat ini terdapat celaan keras kepada orang yang menguburnya hidup-hidup.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
“Lantaran dosa apa makanya dia dibunuh.”
Mereka akan ditanyai gerangan apa sebabnya maka ayah mereka sampai hati menguburkan mereka kebalik bumi dalam keadaan hidup tentu saja mereka sebagai saksi belaka dari kesalahan perbuatan ayahnya.
Menurut penafsiran Asy-Syihab, makanya pertanyaan dihadapkan kepada yang teraniaya, yaitu anak perempuan yang dikuburkan hidup-hidup itu sendiri, di hadapan orang yang menganiaya dan menguburkannya itu ialah supaya lebih terasa berat dan besarnya dosa yang telah diperbuatnya. Akan terasa sendirilah kepadanya bahwa bukanlah anak yang ditanya itu yang akan dapat menjawab pertanyaan itu karena bukan dia yang bersalah, melainkan dirinya sebagai pembunuhlah yang mesti dihukum berat.
Menurut Asy-Syihab cara yang seperti ini namanya ialah istidraj, yaitu membawa bicara kepada suatu suasana yang si bersalah merasakan sendiri kesalahannya, dengan mengaturkan pertanyaan terlebih dahulu kepada yang tidak bersalah.
Menurut As-Sayuthi: “Ayat-ayat ini menggambarkan betapa nian berat dosanya menguburkan anak perempuan hidup-hidup itu.”
Ad-Darimi meriwayatkan di dalam Masnadnya bahwa pada suatu hari seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW menceriterakan betapa dahsyat perbuatannya di zaman Jahiliyah. Katanya: “Ya Rasul Allah! Di zaman jahiliyah kami ini penyembah berhala dan tega hati membunuh anak kami. Aku sendiri mempunyai seorang anak perempuan. Setelah dia mulai gadis kecil, dia gembira dan lucu, suka sekali bila kupanggil. Suatu hari dia kupanggil, dia pun datang. Aku bawa, dia pun menurut. Lalu aku bawa kepada sebuah sumur tua kepunyaan kaum kami yang tidak begitu jauh dari kediaman kami. Lalu aku bawa dia ke pinggir sumur itu akan melihat ke dalamnya. Setelah kepalanya terjulur ke dalam, terus aku angkat kedua kakinya dan aku lemparkan dia ke dalam. Ketika dia akan aku tinggalkan masih kedengaran dia memanggil-manggil: “Ayah, Ayah!”
Mendengar ceriteranya itu dengan tidak disadari titiklah air mata Rasulullah. Lalu berkatalah salah seorang yang turut duduk dalam majlis itu: “Sudahlah! Engkau telah membuat Rasululllah bersedih hati!” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Biarkan dia! Dia menceriterakan hal itu ialah karena tekanan batinnya yang mendalam jua.”
Lalu Rasulullah bersabda pula kepada orang itu: “Lanjutkanlah ceriteramu itu.” Maka orang itu pun melanjutkan ceriteranya kembali dan Rasulullah SAW pun kembali pula dengan tidak disadari menitikkan air mata lebih banyak dari yang tadi. Dan orang itu pun kelihatan sekali sedihnya tengah berceritera itu, ternyatalah pada wajahnya penyesalan yang tiada terperikan.
Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Allah telah menghabiskan dosa-dosa zaman jahiliyah itu dengan masukmu ke dalam Islam. Perbanyaklah amalmu yang baik, moga-moga dosa-dosamu diampuni.”
Orang lain pula yang datang kepada Rasulullah mengeluhkan dosa serupa itu di zaman jahiliyah disuruh Rasulullah ganti dengan memerdekakan budak. Karena orang itu kaya.
Ibnu Abbas menceriterakan bahwa di zaman jahiliyah itu ada orang yang segera menggali lobang di sekitar rumahnya kalau isterinya telah menyatakan sakit akan beranak. Disuruhnya isterinya itu melahirkan anak di muka lobang itu. Kalau ternyata perempuan, langsung lancarkan saja masuk lobang dan segera ditimbuni.
Tetapi ada juga di zaman jahiliyah itu orang yang tidak menyukai dan sangat benci kepada kebiasaan yang sangat buruk itu. Yang amat terkenal ialah seorang pemuka Bani Tamim bernama Sha’sha’ah bin Najiyah bin ‘Iqaal. Kalau dia tahu ada orang yang bermaksud berbuat begitu dengan anak perempuannya, diterimanya orang itu dan ditebusnya anak orang itu dengan hartabendanya sendiri. Sehingga tersebutlah di dalam sejarah bahwa sampai beratus gadis-gadis kecil yang beliau tebus, beliau bayar kepada ayahnya itu, dan anak itu diambilnya anak dan dipeliharanya.
Sehingga seorang penyair Arab ternama, Farazdaq bin Ghalib, cucu keturunan dari Sha’sha’ah ini menjadikan perbuatan neneknya itu suatu kemegahan bagi kaumnya dan dipujanya dengan syi’ir. Menurut riwayat Abu ‘Ubaidah, seketika kabilah-kabilah Arab berbondong mengirim utusan menghadap Rasulullah menyatakan ketundukkan dan kesetiaan, maka dalam perutusan Bani Tamim masuklah Sha’sha’ah yang sangat menantang kebiasaan menguburkan anak perempuan itu.
Rasulullah menghormatinya dengan baik dan beliau mengetahui kelebihan orang ini di zaman jahiliyah. Maka setelah duduk di hadapan beliau, berharaplah Sha’sha’ah agar Rasululullah SAW berkenan memberinya nasihat: “Aushini, ya Rasul Allah, bi abi anta wa ummi!” Berilah aku nasihat, ya Rasul Allah, demi ayah dan ibuku! Lalu Rasul Allah memberinya nasihat: “Bersikap baiklah kepada ibu engkau dan ayah engkau, kepada saudara perempuan engkau dan saudara laki-laki engkau, dan seterusnya kepada yang lain menurut urutan pendekatannya dengan engkau!”
“Sedikit lagi beri aku nasihat, ya Rasul Allah!” Katanya pula.
Maka bersabdalah beliau: “Jagalah yang di bawah jenggot engkau dan yang di antara kedua kaki engkau.” (Artinya jagalah kehormatan!).
Lalu Rasulullah bertanya pula kepadanya: “Cobalah ceriterakan kepadaku apa yang pernah engkau perbuat di zaman jahiliyah itu!”
Lalu Sha’sha’ah memulai berceritera: “Ya Rasul Allah! Aku lihat di waktu itu orang berbondong saja tidak ada tujuan, dan aku sendiri tidak tahu manakah yang benar. Tetapi hatiku merasa bahwa tidak seorang jua pun menempuh jalan yang betul. Anak perempuan dikuburkan hidup-hidup. Aku pun yakin dalam hati bahwa perbuatan ini tidak dibolehkan Allah Yang Maha Tinggi. Maka sekadar tenagaku, aku cobalah mencegah perbuatan itu, lalu aku tebus anak-anak itu jika kulihat orang tuanya telah hendak bertindak.”
Setelah Agama Islam datang, dan Nabi Muhammad SAW menunjukkan contoh teladan betapa kasih kepada anak-anak perempuan, yang beliau tumpahkan kepada Zainab, yang menebus suaminya Abul ‘Ash dari tawanan Perang Badar dengan kalung leher ibunya sendiri, Siti Khadijah dan betapa kemudiannya beliau mendukung cucunya, anak dari Zainab itu ketika di dalam Sakaratil-maut.
Dan betapa pula kasih beliau kepada anaknya Ruqayah dan Ummi Kultsum, yang seketika Ruqayah meninggal sebagi isteri dari Usman bin Affan, lalu beliau “ganti tikarkan” dengan adiknya Ummi Kultsum itu, sedang Ummi Kultsum pun mati pula tidak betapa lama kemudian, sampai beliau berkata kepada Usman: “Sayang Usman! Tidak ada lagi anak perempuanku yang akan aku serahkan jadi pengganti yang hilang buatmu!”. Dan betapa pula kasih beliau kepada puterinya Fatimah, yang sampai diraihnya anaknya itu ke dalam pangkuannya tatkala telah dekat beliau menutup mata, maka semuanya ini menjadikan anggapan masyarakat sahabat-sahabat beliau dan ummatnya seterusnya berbeda kepada anak perempuan, perbedaan siang dengan malam, dengan yang dialami di zaman jahiliyah itu.
Kata Sahibul hikayat, pada suatu hari masuklah sahabat Nabi kita ‘Amr bin Al-Ash ke dalam majlis Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Didapatinya beliau sedang duduk dengan anak perempuannya yang masih kecil. Lalu ‘Amr bertanya: “Siapa ini, ya Mu’awiyah?”
Mu’awiyah menjawab: “Inilah dia delima hati, kembang permainan mata, wangi-wangian pengobat hidung.”
Berkata pula ‘Amr: “Jauhkanlah dia!”
“Mengapa?”, tanya Mu’awiyah.
Menjawab ‘Amr: “Karena dia menyebabkan adanya musuh. Bahaya yang jauh menjadi dekat. Hidup yang tadinya tenang jadi bergolak. Kebencian yang telah terpendam, tersebab dia timbul kembali.
Maka menjawab Mu’awiyah: “Jangan engkau berkata begitu ya ‘Amr! Demi Allah ya ‘Amr, apabila badan menderita sakit-sakit, apabila janazah telah dikelilingi beramai-ramai, atau apabila zaman memburuk nasib, atau tentara dukacita datang menyerbu bertubi-tubi, tak ada obat hati pelarai demam yang melebihi sejuknya daripada barutan tangan halusnya anak perempuan. Kau boleh saksikan sendiri ‘Amr seorang khaal (saudara laki-laki ibu, atau mamak menurut bahasa Minangkabau) merasa tenteram dirawat oleh kemenakannya perempuan, dan seorang nenek diobat hari tuanya oleh cucu perempuannya.”
Termenung ‘Amr bin Al-Ash mendengarkan susunan kata Mu’awiyah itu. Akhirnya dia berkata: “Tadinya tak ada di muka bumi ini yang paling tidak aku senangi, melainkan merekalah. Tetapi setelah mendengar katamu itu maka mereka pulalah yang paling aku sayangi di muka bumi ini.”
Maka terkenanglah kita akan suatu ceritera lagi, bahwa seketika salah seorang anak perempuannya yang berempat itu, Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum dan Fatimah Az-Zahraa’ masih kecil digendong dipangku oleh Rasulullah SAW. Lalu ada orang bertanya, bagaimana perasaan beliau ketika itu. Lalu beliau jawab:
“Dia adalah kembang yang wangi; kita cium dia. Dan dikurniakan Allah kepada keluarganya.”
Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Ustadzul-Imam Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Juzu’ Ammanya seketika menafsirkan ayat ini: “Cobalah perhatikan bagaimana kejam dan kesatnya hati orang-orang ini. Sampai hati mereka membunuh anak-anak gadisnya yang tak berdosa, cuma karena takut akan miskin dan menderita malu; dan semuanya itu bertukar dengan kasih dan sayang, dan sikap yang lemah lembut, setelah orang Arab menerima Islam. Alangkah besarnya nikmat Islam atas perikemanusiaan seluruhnya dengan hapusnya adat yang sangat buruk dan keji ini.”
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Karena dosa apakah dia dibunuh) dibaca Qutilat karena mengisahkan suatu dialog, jawab bayi-bayi perempuan itu; kami dibunuh tanpa dosa.
««•»»
Successful indeed (qad: the lām [of laqad, ‘indeed’] has been omitted from it for the sake of brevity) will be the one who purifies it, purges it of sins,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 8]•[AYAT 10]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of29
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://tafsir.cahcepu.com/attakwir/at-takwir-1-14/
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=81&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#81:9
•[AYAT 8]•[AYAT 10]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of29
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://tafsir.cahcepu.com/attakwir/at-takwir-1-14/
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=81&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#81:9


Tidak ada komentar:
Posting Komentar